Notification

×

Iklan

Iklan

E. Tantangan Dan Harapan Bagi Generasi GIDI Wilayah Bogo

Minggu, Maret 23, 2025 | 19:01 WIB Last Updated 2025-03-23T10:03:41Z

E.  TANTANGAN DAN HARAPAN BAGI GENERASI GIDI WILAYAH BOGO

1. TANTANGAN : 

Ada beberapa hal mendasar yang menjadi Tantangan dan hambatan terbesar yang sedang merintangi ruang gerak dan atau jalan kehidupan bagi generasi gereja GIDI Wilayah Bogo saat ini adalah:

A) Politik OLIGARKI Lokal Merusak

Tatanan Nilai Demokrasi dan Nilai Sosial
Oligarki adalah bentuk pemerintahan dimana kekuasaan politik dan ekonomi dikendalika oleh sekelompok kecil individu atau golongan elit.

Istilah “Oligarki” berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu “Oligos” yang berarti “sedikit” dan “arkheim” yang berarti “memerintah”. Dalam konteks modern, Oligarki sering merujuk pada penguasaan oleh sekelompok kecil orang atau entitas yang memiliki kekuatan signifikan atas sumber daya, ekonomi dan kebijakan negara.

Konsep Oligarki pertama kali dijelaskan pertama kali oleh Filsuf Yunani, Aristoteles, dalam karyanya “Politika”. Ia membedakan antara Oligarki, Monarki (kekuasaan satu orang), dan demokrasi (kekuasaan rakyat). Menurut Aristoteles, Oligarki terjadi ketika kekuasaan dijalankan oleh kelompok kecil yang memerintah demi kepentingan pribadi mereka, bukan demi kepentingan masyarakat luas. Di berbagai belahan dunia, bentuk Oligarki dapat ditemukan di berbagai periode sejarah, Di Athena kuno, misalnya, kekuasaan sering kali berada di tangan segelintir elit yang kaya. Begitu juga dengan kekaisaran Romawi yang dalam banyak hal dikuasai oleh keluarga-keluarga bangsawan yang berpengaruh. Oligarki dapat dikenal melalui beberapa ciri umum, antara lain:

 Kekuasaan Terkonsentrasi: Kekuasaan politik dan ekonomi hanya dipegang oleh sekelompok kecil orang yang memiliki pengaruh besar;

 Kesenjangan Sosial: Oligarki sering kali menimbulkan atau memperparah kesenjangan ekonomi dan sosial dalam masyarakat, dimana kekayaan dan pengaruh lebih banyak terousat pada kelompok elit;

 Kepetingan Pribadi: Para Oligarki sering menggunakan kekuasaan mereka untuk melindungi dan memperluas kepentingan pribadi atau golongan mereka, bukan untuk kesejahteraan umum;

 Korupsi: Sistem Oligarki seringkali rentan terhadap korupsi, dimana kekuasaan dan kekayaan disalahgunakan untuk kepentingan pribadi.

    Oligarki secara sederhana adalah struktur pemerintahan atau kekuasaan yang dipegang oleh sekelompok orang, dan di tempat kita biasanya terdiri dari kerabat dekat atau saudara biologis, yang selalu berupaya mengendalikan kekuasaan untuk mewujudkan keinginan mereka. Mereka menggunakan segala daya upaya. Baik keuangan yang berlimpah, maupun pengaruhnya yang kuat untuk memenangkan jagoannya dalam setiap pertarungan politik perebutan kekuasan.

Lalu mempertahankan kekuasaan tersebut di fase berikutnya dengan tokoh lain yang juga berasal dari kaumnya. Pemerintahan Oligarki memiliki tipe-tipe yang berbeda, tapi memiliki ciri umum yang sama, yaitu pemanfaatan dan pengendalian kekuasaan oleh sekelompok orang untuk memperoleh sumber-sumber keuangan dari kegiatan proyek-proyek pembangunan. Termasuk penguasaan atas tanah, mineral, dan sumber daya alam lainnya. Untuk mencapai tujuannya seperti tersebut di atas, dalam skala nasional para oligarki ikut membangun dan mendanai partai politik sebagai jembatan menguasai tahta.

Berdasarkan penjelasan tersebut diatas, kita secara sadar atau tidak, setuju atau tidak namun faktanya praktek politik Oligarki masih sering terjadi di lingkungan kita. Oleh karena itu, demi mencegah kesenjangan sosial, dan menjaga hubungan sosial yang baik sebagai sesama generasi gereja, maka alangkah indah dan eloknya kita membangun nilai demokrasi, toleransi dan saling mengangkat atau saling memotivasi serta mendorong agar tetap rukun dan damai.

B) Politisi Toxic

     Kata toxic dalam bahasa Inggris berarti beracun. Dalam konteks hubungan manusia, ada istilah hubungan toxic (toxic relationships) yang berarti hubungan yang tidak sehat.

Dalam kaitan dengan pertemanan, juga mungkin terjadi pertemanan yang “beracun” yang membuat individu yang terlibat dalam pertemanan dirugikan, tidak bahagia, direndahkan, mengalami ketidakadilan, dan jadi sasaran amarah. Dalam politik, ternyata juga ada politisi toxic, yakni politisi yang maunya ambil untung sendiri dan suka merugikan orang lain (Winarno,S 2024). Kata toxic termasuk bahasa gaul yang awalnya banyak digunakan di media sosial (medsos). Secara umum, kata toxic bermakna sifat yang tidak baik dari seseorang atau hubungan. Beberapa indikasi orang yang memiliki sifat toxic adalah mereka yang suka melakukan tindakan yang tidak baik, membual, menyebar kebencian, mengadu domba, dan tindakan lain yang intinya adalah sifat yang tidak terpuji. Manusia dan hubungan toxic perlu dijauhi untuk menjaga kesehatan mental dan emosional.

        Lebih lanjut, Politisi toxic adalah mereka yang egois, mementingkan diri sendiri, dan mau menangnya sendiri. Hubungan tidak sehat dapat muncul dalam berbagai konteks, termasuk hubungan pribadi, lingkungan kerja, lingkungan sosial, dan dalam kehidupan politik. Politisi toxic dapat menimbulkan bahaya bagi masyarakat dan sistem politik.Politisi model ini cenderung memanfaatkan retorika yang memecah belah dan meningkatkan polarisasi di antara pendukung mereka. Hal ini dapat menimbulkan perpecahan dalam masyarakat dan meningkatkan risiko konflik sosial atau politik. Beragam praktik tidak etis dan manipulatif yang dilakukan oleh politisi toxic dapat mengakibatkan kehilangan kepercayaan publik. Politisi toxic dapat memanipulasi proses demokrasi seperti pemilihan umum, pengambilan keputusan, dan pembuatan kebijakan.

Hal ini dapat mengakibatkan ketidakadilan politik, di mana suara dan kepentingan masyarakat tidak diwakili dengan baik. Politisi toxic cenderung memperkuat struktur kekuasaan yang tidak adil. Mereka lebih memprioritaskan kebutuhan kelompoknya dan mengabaikan kepentingan rakyat.

 Kini timbul suatu pertanyaan, bagaimana dengan fakta kondisi riil apakah sikap Toxic seperti ini terdapat di lingkungan kita? Apakah kita membiarkan “Potilisi Toxic” ini tetap meracuni pikiran, dan membiarkan membiarkannya bunuh hati nurani sesama generasi gereja GIDI lebih khususnya di wilayah bogo?

Apa untungnya bila kita membiarkan Politisi Toxic tetap leluasa merajalela dalam setiap sendi kehidupan kita?. Diantara kita pasti mempunyai jawaban yang berbeda. Bagi mereka yang mau mempertahankan posisi secara politis tetap aman dengan semua kepentingan pasti akan tetap setuju, namun ada sebagian yang prihatin dengan merosotnya tatanan nilai kehidupan sosial, maka tidak akan mau setuju bila “politisi toxic’ ini membunuh nilai manusia sebagai makhluk sosial. Jadi, jawabannya kembali kepada kita masing-masing. 

    Kita seharusnya ingat dan sadar bahwa: “Sejatinya tak ada teman dan lawan yang abadi dalam politik. Yang abadi sesungguhnya adalah kepentingan. Hubungan antara teman dan lawan seringkali bersifat dinamis dan dapat berubah seiring waktu dan peristiwa politik yang berkembang. Teman politik saat ini bisa menjadi lawan politik di masa depan, terutama jika kepentingan politik mereka tidak lagi sejalan.

 Sebaliknya, lawan politik saat ini bisa menjadi teman politik di masa mendatang jika kepentingan bersama atau tujuan politik mereka berubah atau bertemu”.Dalam politik, hubungan antara individu atau kelompok seringkali didorong oleh kepentingan.

Kepentingan tersebut bisa berupa kepentingan politik, ekonomi, ideologis, atau kepentingan pribadi. Seseorang bisa memilih untuk menjalin hubungan dengan individu atau kelompok lain jika dianggap akan menguntungkan mereka. Meskipun mereka memiliki perbedaan pandangan politik. Kesetiaan pribadi atau hubungan interpersonal seringkali kalah dengan pertimbangan politik”. Munculnya politisi toxic bisa jadi dinamika dalam politik atau dalam konteks kerja sama politik.

 Seseorang mungkin secara terbuka mendukung atau bersekutu dengan orang lain, tetapi pada saat yang sama, bertindak untuk menghambat atau merugikan upaya mereka secara diam-diam. Kepentingan adalah faktor utama yang menentukan hubungan politik seseorang, termasuk apakah mereka akan dianggap sebagai teman atau lawan.

  Oleh karena itu, berdasarkan penjelasan diatas demi menjaga keutuhan dalam generasi GIDI dalam konteks wilayah Bogo lebih khususnya dan 7 (tujuh) wilayah lainnya, maka kita sebagai generasi muda yang bisa dikatakan sebagai anggota masyarakat dan kaum muda yang terpelajar wajib memiliki peran penting dalam menangani politisi toxic dan mempromosikan praktik politik yang lebih sehat dan bertanggung jawab. Politik Lokal yang sangat tidak Sehat adalah Egoisme, Iri hati, dan buang istilah Virus atau Toxic dalam sistem politik Praktis dalam kalangan Birokrasi Pemerintahan, Saling menopang sebab jabatan politik Hanyalah Titipan bukan Warisan. (Maka itu jadilah orang yang benar-benar dipakai TUHAN untuk menolong gereja, orang tua, dan generasi muda.

C) Sikap Apatisme
Sikap Apatisme Apatisme adalah: adalah perasaan tidak peduli dengan orang lain yang ada pada lingkungan sekitar.
Kondisi ini perlu segera mendapatkan penanganan sebelum menimbulkan masalah yang lebih besar, termasuk pergaulan atau hubungan dalam lingkungan sosial.Sikap Apatisme juga adalah acuh tak acuh, tidak peduli, dan kehilangan motivasi. Orang yang apatis mungkin tidak bersemangat melakukan sesuatu, dan tidak peduli dengan masalah yang dihadapi. Sikap Apatis ini sangat mempengaruhi dan berdampak buruk bagi orang lain karena:

akan mempengaruhi kualitas hidup orang yang mengalaminya, mempengaruhi kehidupan sosial, pekerjaan, atau kehidupan orang tersebut, mencegah komunitas menangani masalah yang berpotensi menganggu ketenangan dan menumbuhkan rasa tidak berdaya di balik sikap pasrah.

Sikap Apatisme atau acuh tak acuh yang didorang oleh karena kepentingan politik sesaat akan membunuh langkah dalam perjalanan panjang dalam nilai Kekristenan dan juga dalam konteks gereja. Jika sikap tidak mau perduli dengan sesama (apatisme) masih ada dalam pribadi kita sesama generasi GIDI, memang sangat bertentangan dengan nilai solidaritas, nilai setia-kawan, gotong-royong dan hidup berdampingan yang telah terjalin dengan baik dalam kehidup sosial. Dalam konteks perkembangan gereja mula-mula orang tua kita menerima Injil ini bukan dengan sikap Apatisme tetapi dengan “Hati Yang Terbuka” (Open Heart). Oleh karena itu, mari kaum generasi gereja, demi kemajuan kita buang sikap apatime lalu bahu-membahu membangun generasi yang solid.

D) Sifat Egoisme

    Egois adalah perilaku yang cenderung mengutamakan diri sendiri tanpa memperhatikan kepentingan atau perasaan orang lain.

Dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari, egois dapat termanifestasi melalui sikap-sikap yang menonjolkan kepentingan pribadi tanpa mempertimbangkan dampaknya pada orang-orang di sekitarnya. Egois adalah tantangan dalam membangun hubungan yang sehat dan harmonis, karena individu yang bersikap egois mungkin kurang peka terhadap kebutuhan dan pengalaman orang lain. Egois adalah sikap yang dapat merugikan interaksi sosial dan lingkungan sekitar. Dengan mengutamakan diri sendiri secara berlebihan, individu yang bersikap egois dapat membuat atmosfer yang kurang inklusif dan sulit untuk menciptakan kerjasama yang efektif. Egois adalah hambatan dalam mencapai kesuksesan bersama, karena mereka mungkin enggan berbagi, tidak mendengarkan pendapat orang lain, dan kurang bersedia untuk berkorban demi kepentingan kelompok. Namun demikian, perlu diingat bahwa egois adalah sifat yang dapat diolah dan dimodifikasi melalui kesadaran diri dan usaha yang konsisten. Dengan membuka diri terhadap pemahaman, melibatkan diri dalam komunikasi terbuka, dan mengembangkan empati, seseorang dapat mengatasi perilaku egois dan berkontribusi pada penciptaan lingkungan yang lebih saling mendukung Lebih lanjut, Sikap egoisme adalah kecenderungan seseorang untuk mementingkan diri sendiri daripada kepentingan orang lain.

 Egoisme juga dapat diartikan sebagai menempatkan diri sendiri di tengah tujuan tanpa peduli dengan penderitaan orang lain. Ada beberapa Ciri-ciri sikap egois yang perlu kita hindari adalah: Tidak merasa bersalah atas perbuatannya, Tidak peduli dengan kondisi orang lain, Enggan menerima kritik, Tidak mau berbagi, Enggan meminta maaf, Keras kepala, Mudah emosi, Haus perhatian, dan Suka memberontak .

       Bertalian dengan penjelasan tersebut diatas, fakta konkritnya sikap Egoisme ini masih sangat kental dapat dilihat dan dirasakan antara istilah ‘Senior-senior terhadap juniornya”. Seringkali yang merasa senior tidak mau tahu atau tidak perduli terhadap adik-adik juniornya. Kadang-kadang kaka seniornya merasa sudah bisa dan hebat, sehingga tidak mau membutuhkan adik-adik junionya. Apalagi dalam pertarungan atau perebutan suatu jatabatan dalam organisasi kepemudaan dan atau pemilihan legislatif serta pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.

 Karena bila sikap egoisme masih ada pastinya akan mengalami kesulitan untuk menyatuhkan perspektif atau pandangan dalam suatu nilai kebersamaan sosial. Sikap egoism itu bukan hanya dalam perebutan jabatan dalam organisasi kepemudaan atau lainnya namun seringkali terbawa dalam ranah sistem birokrasi pemerintahan. Saling mengunting satu sama lain. Saling ketidakpercayaan antara satu sama lainnya. Sifat dan sikap egoism adalah berakar dari sifat kesombongan manusia, sehingga berdampak buruknya sangat mempengaruhi dalam pengembangan karir bahkan dalam semua dimensi kehidupan. Kita harus sadar bahwa: Iblis pakai sifat kesombongan kita manusia untuk menghancurkan nilai sosial manusia. Kesombongan atau tinggi hati termasuk salah satu dari tujuh dosa besar manusia. Adapun ke-7 (tujuh) dosa besar manusia yaitu: 1). Kesombongan (Pride), 2).Ketamakan/Rakus (Greed) dalam jabatan dan lain-lain, 3).Iri hati (Envy) sehingga tidak senang melihat orang lain melebihi kita baik dala kekuasaan,harta, prestasi, jabatan, hingga kebahagiaan. 4). Murka/Amarah (Wrath), 5).Nafsu (Lust); 6) Kerakusan (Gluttony) dan 7). Kemalasan (Sloth).

       Berdasarkan penjelasan tersebut diatas, sangat jelas bahwa bila kita masih memiliki tujuh sifat ini, maka kita sudah menjadi sahabat atau rekan sekerja dengan kuasa Iblis yang selalu ingin merusak keharmonisan manusia dengan sesama. Oleh karena itu, alangkah baiknya kita harus membuang sifat-sifat yang selalu ingin berpolitik praktis Oligarki, Tidak terlalu bersikukuh dengan pemikiran Politisi Toxic, membuang sikap apatisme dan sifat egoisme dari kehidupan kita.

        Oleh karena itu, ada beberapa pertanyaan penting yang harus dipikirkan dan dijawab oleh generasi gereja GIDI, lebih khususnya di wilayah Bogo saat ini adalah: 

a) Apakah kita semua telah siap untuk menjadi subyek dalam pembangunan di beberapa kabupaten seperti: Kabupaten Mamberamo Tengah, Kabupaten Jayawijaya dengan Kabupaten yang lainnya dengan segala potensi yang dimiliki?

b) Apa yang kita sudah buat untuk gereja dan negeri kita ini? Kita jangan membahas kelemahan dan karya orang lain, tetapi harus bertanya pada diri sendiri bahwa: Apa yang saya sudah buat untuk untuk menolong orang lain?

c) Apakah kita sekarang sudah siap “BERSATU dan BANGKIT”?

d) Bagaimanakah kita generasi muda gereja GIDI bisa manfaatkan peluang dan harapan ini sehingga bisa bersaing atau berdedikasikan diri dalam proses pembangunan di Provinsi Papua Pegunungan?     

2. HARAPAN
   Tidak ada kata terlambat, kami masih punya harapan, karena waktu Tuhan pasti yang terbaik asalkan kita generasi muda GIDI berkomitmen untuk mau dipakai oleh Tuhan sebagai alat-Nya dengan segala potensi Sumber Daya alam dan Sumber Daya Manusia yang diberikan kepada kita baik. Seperti janji Firman Allah bagi kita dalam Yermia, 29: 11 berbunyi: 
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah Firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”. 

Janji TUHAN kepada manusia tidak pernah untuk rancangan kecelakaan, tetapi rancangan damai sejahtera untuk hari depan yang penuh harapan. Tuhan mengetahui masa depan kita, rencana-rencana-Nya bagi kita manusia adalah baik dan penuh harapan. Selama Allah yang mengetahu masa depan, menyediakan agenda kita dan menyertai ketika kita melaksanakan Misi-Nya, kita bisa memiliki harapan yang tidak terbatas. Ini tidak berarti bahwa kita akan diluputkan dari penderitaan, kesengsaraan atau kesukaran, tetapi bahwa Allah akan menjaga kita terus sampai mencapai akhir yang mulia. Itu adalah janji Tuhan kepada setiap manusia sebagai umat-Nya yang percaya.

   Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) mempunyai harapan yang besar kepada generasi muda bisa menjadi berkat bagi bangsa, bersatu, dan berkontribusi positif bagi masyarakat luas. Ada beberapa Harapan Gereja GIDI terhadap generasi muda:

a) Menjadi berkat bagi bangsa;
b) Bersatu dan saling mendukung;
c) Menjaga semangat persatuan;
d) Memiliki karakter yang kokoh dalam iman dan persaudaraan;
e) Hidup takut akan Tuhan;
f) Hidup dalam kekuatan Injil;
g) Fokus pada Tuhan;
h) Memperhatikan tantangan diluar sana;
i) Jangan mudah tertipu oleh mereka yang bisa menghilangkan fokus
    Oleh karena itu, generasi muda gereja GIDI pada 8 (Delapan) wilayah umumnya dan secara khusus bagi wilayah Bogo Mari kita satukan Hati, Langkah, Komitmen lalu Bangkit Maju Bersama dengan tetap berakar pada gereja sendiri. Buanglah semua pengalaman buruk di masa lalu, dan pandanglah masa depan yang gilang-gemilang dan penuh harapan. Kami pemuda, mahasiswa dan kaum intelektual yang tersebar dalam sistem birokrasi dan legislatif semua adalah generasi gereja yang sangat dibutuhkan sebagai harapan masa depan. Maju dan mundurnya gereja GIDI ini terletak pada pundak generasi muda saat ini, maka itu melalui tulisan ini penulis mengajak kepada generasi muda Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) seluruh Indonesia dan Se-Wilayah Provinsi Papua Pegunungan untuk:

1) Kembali berakar dalam gereja sebagai pondasi dasar kehidupan hari ini dan untuk masa yang akan datang;

2) Tertanam dalam kebenaran Firman Tuhan dan mengandalkan Kuasa Roh Kudus;

3) Hiduplah berdamai dengan semua orang;

4) Tinggalkan segala kegiatan kegiatan yang tidak menguntungkan seperti: jauhkan diri dari pergaulan bebas, MIRAS, hindari diri dari ganja, narkoba akan membunuh masa depan generasi muda;

5) Berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang positif (olahraga, music, lembaga kursus untuk pengembangan diri atau potensi akademik pribadi);

6) Tetaplah hidup dalam komunitas yang baik agar tidak mudah terpengaruhi dari kegiatan-kegiatan buruk yang merusak masa depan;

7) Jadilah pribadi yang bisa membangun diri sendiri dan membangun orang lain dengan pikiran positif (Positive Thinking);

8) Berpikirlah yang luas dan bertindaklah secara arif dan bijaksana dengan sama lingkungan (Think Globally and Act Locally).

F. PENUTUP

a. Kesimpulan
 Sejarah gereja sangat penting untuk generasi muda karena dapat memperkuat identitas sebagai orang percaya, serta menjadi inspirasi untuk mengembangkan iman dan moral yang baik;

 Gereja memiliki peran yang signifikan dalam membangun iman Kristen dan Karakter Kristiani melalui berbagai kegiatan seperti: ibadah, kegiatan sosial, sidi, baptis, perjamuan kudus. Remaja dan pemuda dan generasi muda dianggap sebagai tulang punggung Gereja yang memiliki potensi yang luar biasa, oleh sebab itu segala potensi yang dimiliki oleh generasi mudah harus dipersiapkan secara baik agar dapat bersaing dalam tantang era global saat ini. Mereka diharapkan menjadi penerus bangsa di masa depan;

 Generasi potensial dari Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) telah memainkan perannya dan berdedikasi kepada nusa dan bangsa serta ikut berpartisipasi dalam program pembangunan di Tanah Papua dan Indonesia.

b. Saran
 Perlu adanya persamaan persepsi dari berbagai sumber referensi dan pihak misionaris lalu meluruskan dengan baik atau benar terkait dengan tanggal, bulan atau tahun peristiwa penting yang pernah terjadi dalam sejarah perkembangan dan lahirnya Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) dari pedalaman Papua Pegunungan namun saat ini dapat menyebar ke pesisir pantai sampai keluar negeri karena kuasa Tuhan dan pekerjaan Roh Kudus;

 Dalam rangka membangun persamaan persepsi ini, maka generasi gereja GIDI secara khusus di Wilayah Bogo harus membuang sifat-sifa kita yang buruk dimana selalu ingin berpolitik praktis Oligarki, dan terlalu bersikukuh dengan pemikiran Politisi Toxic, membuang sikap apatisme dan sifat egoisme dari kehidupan kita. Setelah itu, merangkul semua generasi tanpa memandang latar belakang, status sosial, jabatan dan lain-lain tanpa kepentingan tertentu;  

 Setelah menyatukan persepsi lalu kita harus buat semacam doa rekonsiliasi (Pemulihan) dan permohonan maaf atas kesalahan terhadap misionaris atau kesalahan lainnya yang mungkin pernah terjadi diantara tahun 1960-an dan 1970-an sampai dengan masuk tahun 2025 ini secara khususnya dalam konteks pelayanan Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) Wilayah Bogo. 

   Demikian “Suatu Catatan Reflektif Dan Analisis Sosial Bagi Generasi GIDI Wilayah Bogo”, kiranya tulisan singkat ini dapat memberikan informasi tentang peristiwa penting yang sudah pernah terjadi dalam perkembangan gereja, dedikasi dan prestasi dari beberapa generasi gereja GIDI dalam sistem Birokrasi Pemerintahan Provinsi Papua dan Papua Pegunungan serta dalam sistem Legislatif (DPR-RI) di tingkat Pusat. Semoga dengan beberapa pengalaman dari beberapa duta atau representatif generasi GIDI yang telah mengukir sejarah fenomenal itu dapat terinspirasi serta menjadi motivasi bagi kaum generasi muda Gereja Injili Di Indonesia.

Apabila dalam tulisan ini terdapat kekurangan, maka penulis dengan senang hati akan menerima kritikan dan saran demi penyempurnaan tulisan ini.Sebab,:”TAK ADA GADING YANG TAK RETAK”. Akhirnya kata: Kiranya Tuhan Yang Maha Kuasa akan senantiasa melimpahkan Kasih Karunia-Nya dalam kehidupan generasi muda Gereja Injili Di Indonesia pada 8 wilayah di seluruh Indonesia dan secara khusus Wilayah Bogo.

Waaa.waaaa.waaaa.waaaa.waaa!!
Tuhan Yesus Memberkati…Shalom.
×
Berita Terbaru Update