D. Peran / Partisipasi Generasi GIDI Dalam Sistem Pemerintahan Pada Level Provinsi & Anggota Legislator Pusat maupun Kementerian RI di Jakarta.
Kata peran memiliki arti sebagai tindakan atau perbuatan yang dilakukan seseorang untuk menjalankan kewajiban dan haknya sesuai dengan status sosialnya.
Peran juga dapat diartikan sebagai tugas atau kewajiban seseorang dalan suatu pekerjaan atau usaha. Partisipasi adalah keterlibatan, keikutsertaan, atau peranserta dalam suatu kegiatan.
Partisipasi dapat dilakukan secara sukarela dan bertanggung jawab.
Dengan demikian, dalam konteks artikel ini penulis mengetahui bahwa ada beberapa generasi GEREJA GIDI terbaik dari Wilayah Bogo yang sudah mendiang adalah: Almarhum Drs. Roberth Wanimbo pernah menjadi Ketua DPRD Kabupaten Jayawijaya, dan Bupati Carateker pertama di DOB Kabupaten Yahukimo Tahun 2004-2006 menjadi pilar Gereja di zaman mereka.
Ada juga Bapak Karel Payokwa, S.Pak pernah memimpin terakhir menjadi Kepala Sekolah SD Negeri Kota Wamena lalu ditarik ke Pemerintah Daerah Kabupaten Mamberamo Tengah sebagai Kepala Dinas Pendapatan Daerah hingga pension. Masih ada juga Bapak David Pagawak, S.Sos menjadi Bupate Carateker pertama DOB Kabupaten Mamberamo Tengah pada tahun 2008-2010, kemudian dilantik menjadi Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif memimpin hanya selama beberapa bulan lalu diganti atau pension.
Selain itu ada beberapa generasi GIDI yang bertalenta diantaranya: Bapak Jhon Zine Kogoya Tujuwale, Bapak Andreas Medlama (Almarhum); Bapak Yafet Payokwa (Alm); Bapak Rony Pagawak, SE; Bapak Hans Yikwa, S.Pd; Bapak Calvin Bilim Waker, SH saat ini kepada Dinas Infokom Provinsi Papua Pegunungan; Ada Bapak Simon Gombo, Bapak Alfius Aud, Amd, ada Adam Aud, S.Pd; Ada bapak Naftali Karoba, S.Pd, Yusak Gombo, S.Pd dan masihbanyak beberapa nama namun tidak bisa menyebutkan satu persatu disini. Tapi mereka semua adalah orang-orang generasi terbaik yang sudah pernah mendedikasikan hidup mereka dalam pelayanan gereja GIDI Wilayah Bogo.
Kemudian setelah melewati masa/waktu generasi yang disebutkan nama mereka tersebut diatas, tumbuh generasi gereja yang muncul pada sistem pemerintahan tapi dalam konteks Gereja GIDI Wilayah Bogo adalah: Bapak Ricky Ham Pagawak, SH., M.Si menjadi Bupati Kabupaten Mamberamo Tengah Periode 2013-2018 dan 2018-2023. Dalam kepemimpinannya sudah cukup banyak membantu dalam pelayanan gereja GIDI Wilayah Bogo dengan beberapa terobosan yang diluar dari batas kemampuan orang tua kita.
Foto (Istimewa) Mantan Bupati Mamberamo Tengah Ricky H. Pagawak, M.Si Periode 2013-2018 dan 2018-2023
Namun dengan berakhirnya masa kepemimpinan maka berakhir pula segala kewenangannya. Karena semua jabatan dibatasi oleh aturan dan ketentuan Undang-Undang dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Namun dedikasi, prestasi dan sumbangsihnya dalam sistem pemerintahan sudah pernah berpartisipasi mengambil kebijakan dan keputusan yang berpihak kepada masyarakat secara khusus dalam konteks gereja GIDI Wilayah Bogo.
Selanjutnya, penulis masih lebih konsentrasi pada judul topik yang terkait dengan: Peran & Partisipasi Generasi GIDI Dalam Sistem Pemerintahan Pada Level Provinsi Dan Pusat baik Legislatif maupun Kementerian RI di Jakarta.
Oleh karena itu, penulis mencoba sentil dengan beberapa nama generasi gereja (GIDI) yang sudah berkiprah dan mendedikasikan diri mereka dalam sistem pemerintahan pada level Provinsi maupun anggota Legislator Pusat (DPR-RI) diantaranya adalah:
A) Lukas Enembe Gubernur Provinsi Papua Periode 2013-2018 & 2018 – 2023.
Foto (Istimewa) Alm. Lukas Enembe, Gubernur Provinsi Papua 2 periode 2013-2018 dan Periode 2018-2023.
Seorang Lukas Enembe dilahirkan di kampung Mamit pada tanggal 27 Juli 1967, Distrik Kembu Kabupaten Tolikara dari pasangan Tagolenggawak Enembe (ayah) dan Deyaknobukwe Enumbi (ibu).
Dalam konteks generasi GIDI, maka seorang Lukas Enembe lahir dan dibesarkan di kalangan GIDI wilayah Toli diambil dari nama Sungai Toli merupakan salah satu sungai terkenal, dengan demikian dalam konteks pelayanan gereja disebut GIDI wilayah Toli agar mudah diingat dan dari konteks kewilayahannya lebih cocok menggunakan kata “Wilayah Toli”. Nama Toli mendeskripsikan Kabupaten Tolikara dengan letak geografis, topografi, dan fisiogafy termasuk jati diri, Identitas karakteristik sosial dan budaya masyarakat setempat.
Lukas Enembe merupakan salah satu Generasi GIDI TERBAIK dari Wilayah TOLI yang mengharumkan nama baik Papua dengan beberapa kebijakan terobosannya sejak menjadi Gubernur Provinsi Papua periode 2013-2018 dan Periode 2018-2023. Beliau merupakan salah satu putra terbaik anak gunung sebagai orang pertama yang memecahkan rekor menjadi gubernur dua periode di Provinsi Papua. Lukas Enembe anak dari gunung yang dilahirkan dari honai dan dibesarkan dikampung Mamit tempat kelahirannya.
Berdasarkan beberapa catatan buku oleh beberapa orang penulis maupun media cetak telah mengemukan bahwa seorang Lukas Enembe adalah seorang politisi, gubernur, dan pemimpin Papua yang karismatik, visioner, jujur, dan berani dalam keberpihakannya kepada orang asli Papua. Ia merupakan politisi modern dengan gaya kepemimpinan tradisional, sebagai magnet yang dapat menyatukan sekaligus mencerminkan kepribadian dan jati diri orang Papua sesungguhnya.
Hingga ia mudah diterima dan disukai oleh orang Papua pada umumnya, kecuali segelintir rival politiknya, kelompok oportunis, pendengki, dan kaum yang merasa diri kasta paling superior di negeri ini. Kecintaan orang Papua terhadap Lukas Enembe karena berbagai terobosan pembangunan di segala bidang. Dan keberaniannya secara terbuka menentang bentuk ketidakadilan yang dapat menyenggol kepentingan harkat dan martabat orang Papua, seperti stigma kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan (primitif), perbudakan, dan isu rasialisme yang kerap ditempelkan kepada orang Papua. Bentuk perlawanan Lukas bukan dengan kekerasan fisik berupa senjata maupun bom, tetapi ia menjawab semua anggapan itu dengan cara-cara damai dan terhormat, melalui jalan politik yang digelutinya.
Menurut beberapa sumber buku yang mengisahkan perjalanan politik Lukas Enembe, memberikan gambaran bahwa Lukas bukanlah sosok politisi dadakan, instan, dan karbitan, tetapi politisi karier yang memiliki rekam jejak yang panjang. Karena sejak muda, saat sebagai aktivis mahasiswa di Universitas Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, ia sudah memikirkan orang banyak, terutama nasib orang Papua. Menggumuli semua itu dalam proses perjalanan hidupnya, dengan melihat situasi Papua yang masih terbelenggu dengan masalah ekonomi, kesehatan, pendidikan, politik, dan rasisme, Lukas bergegas untuk mengambil preferensi politik yang pasti untuk menjawab dan mengubah situasi yang tidak menguntungkan orang Papua tersebut.
Dengan melihat realitas hidup orang Papua yang serba kekurangan ibarat di tubir jurang, Lukas harus bersikap. Pria kelahiran Mamit, Distrik Kembu, Jayawijaya (kini Kabupaten Tolikara), 27 Juli 1967 itu tidak ingin terus tepekur atau tekapar karena lelah dan meratapi sejarah penderitaan orang Papua ini. Dia yakin bahwa tidak cukup menjadi aktivis untuk mengubah nasib negeri ini dalam negara ini. Tetapi hanya satu jalan yang harus ia ambil, yakni terjun dan menjadi bagian dari sistem, lalu ikut berpartisipasi agar bisa memainkan perannya untuk mempengaruhi segala sistem dan kebijakan yang tidak adil dan sengaja diciptakan serta dipelihara begitu lama, sejak Papua dimasukkan menjadi bagian NKRI, 1 Mei 1963.
Dari situ, maka nasib orang Papua akan mengalami perubahan dari satu sisi (menjadi manusia sejati yang seutuhnya, punya derajat yang setara dengan warga negara lain di “Nusantara” ini). Untuk memutus segala mitos negatif yang menyelimuti orang Papua, baik kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan rasisme, Lukas Enembe harus memberanikan diri dan terjun dalam kancah politik kekuasaan. Ia memulai kariernya sebagai Wakil Bupati Kabupaten Puncak Jaya tahun 2001-2006 dan menjadi bupati di kabupaten yang sama kurun 2007-2012.Tidak sampai di situ, Lukas mengepakkan sayap dan bergabung dengan Partai Demokrat sekaligus diangkat sebagai ketua DPD pada partai berlambang mercy besutan Presiden ke-4 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut, di Provinsi Papua pada 2006. Di tahun yang sama, Lukas yang masih sangat muda mencalonkan diri sebagai Gubernur Papua melawan politisi senior Papua, Barnabas Suebu. Namun “dewi fortuna” belum memihak padanya. Ia kalah dengan suara tipis akibat permainan.
Lukas Enembe kalah bukan berarti semangatnya terpupus hanya sampai disitu, namun sudah berkomitmen dan tekadkan niatnya untuk mencoba lagi pada tahun 2013, Lukas kembali mencalonkan diri sekaligus memenangkan pemilihan gubernur dan dilantik pada April 2013. Dan ia kembali bertengger di kursi yang sama untuk periode kedua dalam pemilihan Gubernur Papua 2017. Saat sebagai Gubernur Papua, Lukas mulai merealisasikan idealisme dan cita-cita yang diproyeksikan sejak muda untuk kebaikan dan kemajuan orang Papua. Dengan langkah berani, Lukas melakukan berbagai inovasi dan kebijakan spektakuler, seperti pembangunan di bidang infrastruktur, ekonomi, pembangunan pendidikan, kesehatan, sekaligus mengubah postur anggaran otonomi khusus 80 persen ke Kabupaten dan 20 persen ke Provinsi sebagai wujud kecintaan terhadap masyarakat di kampung-kampung.
Hal fenomenal yang Lukas Enembe sebagai seorang generasi gereja GIDI dari Wilayah TOLI pernah dilakukan adalah: membangun sejumlah fasilitas publik, seperti RSUD Pratama Biak Numfor yang diresmikan 18 Mei 2017, kantor gubernur Papua, kantor Majelis Rakyat Papua (MRP) 16 lantai, 5 ruang pelayanan di RSUD Kabupaten Mappi dan Jayapura, dan menyelenggarakan PON XX Papua sekaligus pembangunan sejumlah fasilitas stadion di Jayapura, Merauke, dan Mimika. Juga sejak 2014, melalui dana otonomi khusus, sedikitnya 500 anak-anak Papua dikirim belajar di berbagai negara, baik Amerika, Rusia, China, Australia, dan Selandia Baru.
Sejumlah terobosan yang dilakukan oleh Lukas untuk pembaruan Papua ini sebagai sesuatu yang baru dan tidak lazim dilakukan oleh para gubernur terdahulu di Papua. Selain itu, ia merasa sebagai generasi gereja GIDI sehingga kebijakan yang sangat strategis dia lakukan adalah insfrastruktur bangunan untuk beberapa gedung tempat menginap bagi atlit PON XX dengan beraninya telah dibangun dalam area Kampus STT GIDI yang kini menjadi asset yang sangat bermanfaat bagi gereja kami.
Itulah secuil atau sediki dari sederet torehan prestasi gemilang yang menjadi sumbangsih nyata Lukas Enembe dalam pembangunan di Papua. Ia bahkan berjuang merumuskan visi-misinya melalui kebijakannya yang diberi nama Otsus Plus–yang akan memberikan ruang yang besar kepada pemerintah daerah dalam mengelola Otsus, sekaligus memberi dampak lebih dalam proses implementasi Otsus di Papua, termasuk penyelesaian berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia di Tanah Papua.
Namun, hal itu tidak didukung oleh pemerintah pusat dan DPR untuk mengesahkan formula Otsus Plus menjadi sebuah regulasi, hingga membuat dirinya kecewa dan skeptis terhadap eksistensi Otsus di Papua.
Padahal, Otsus merupakan sebuah sarana efektif yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada orang asli Papua, untuk mengatur diri sendiri, tanpa diintervensi dan didikte oleh Jakarta, kecuali hak-hal tertentu yang memang menjadi kewenangan pemerintah pusat, seperti hubungan luar negeri, pertahanan, keamanan, peradilan, fiskal, dan moneter. Hal ini memberi pertanda bahwa pemerintah Indonesia tidak serius dalam melaksanakan tawarannya berupa paket Otsus sebagai solusi politik dalam meredam aspirasi Papua merdeka. Lukas memang berani dan kritis di masa krisis, penuh gejolak, dan disrupsi, untuk keadilan dan kemajuan Papua.
Lukas Enembe merupakan satu-satunya tokoh dan politisi Papua dalam kepemimpinan formal sebagai gubernur di Tanah Papua pertama, yang secara terang-terangan dan keras menyampaikan pendapat dan keprihatinannya tentang kondisi masyarakat Papua, seperti pelanggaran hak asasi manusia, inkonsistensi dalam pelaksanaan UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus (Otsus) bagi Papua, pembagian Papua menjadi tiga provinsi, ujaran rasisme yang menyulut gelombang protes masif di seluruh Tanah Papua pada tahun 2019.
Lukas Enenmbe adalah seorang lugu apa adanya namun sangat berani menentang pemerintah Pusat demi kepentingan rakyat Papua dengan lancangnya (berani) ingin membatasi izin usaha eksplorasi dan eksploitasi tambang, termasuk meminta PT Freeport Indonesia membangun smelter di Papua, bukan di Gresik, Jawa Timur. Bahkan di hadapan Presiden Joko Widodo, Enembe menegaskan bahwa masyarakat Papua menghendaki smelter dibangun di Papua. “Kalau tidak bangun di Papua, silakan keluar dari Papua, seluruh SDA di Papua, hutan, ikan, tambang, untuk kesejahteraan Papua, wajib hukumnya bangun di Papua,” kata Enembe (Merdeka.com, 30/1/2015).
Berbagai kebijakan dan sikap tegas Lukas ini justru mendapat serangan balik dan membuat dirinya hidup dalam ketidaknyamanan: dicurigai, dibuntuti, diteror, diintimidasi, dikriminalisasi, hingga ancaman pembunuhan. Hal ini dapat mereaktiviasasi ingatkan kita bahwa Neslon Mandela di Afrika Selatan, tidak disukai oleh negara (kolonial) Belanda/Inggris karena tegas melawan politik apartheid. Lukas Enembe di Papua, dijauhkan oleh negara karena berani menentang politik rasisme.
Begitulah bukti kecintaan Lukas kepada orang Papua, dengan mewakafkan sebagian besar jiwa dan raganya demi membela kaum tertindas dan mengangkat hak-hak dasar orang Papua, tanpa memikirkan nasib dan jabatannya. Ia bersedia menjadi lilin yang habis dibakar untuk menerangi gulita ketidakadilan yang selama ini membelit masyarakat Papua. Sikap heroisme itu berakar pada sebuah keyakinan Lukas bahwa kehilangan harta benda sama dengan tidak ada kehilangan apa-apa; kehilangan nyawa adalah kehilangan dari separuh hidup, tetapi kehilangan harga diri adalah kehilangan segala-galanya dalam hidup.
Lukas Enembe pernah menyampaikan pandangan yang cukup progresif dan impresif tentang perlunya perekatan dan soliditas orang Papua di tengah maraknya kebijakan politik Jakarta yang memecah-belah (Devide Et Impera) orang Papua melalui pemekaran provinsi, kabupaten, dan kota di Tanah Papua, yang mungkin bagi sebagian orang Papua menganggap Lukas sebagai tokoh nasionalis Papua terbaik.
“Perlu saya sampaikan bahwa ini akhir masa kepemimpinan saya (sebagai Gubernur Papua). Sebelum saya turun, harus ada sesuatu yang kita tinggalkan; baik perbuatan dan kata-kata, yang bisa ditiru oleh generasi akan datang. Kepada masyarakat Papua di seluruh Tanah Papua bahwa banyak persoalan yang harus diselesaikan, walaupun kita akan dipisahkan oleh banyaknya provinsi, kabupaten, dan kota, tetapi kesatuan Papua, dari Sorong sampai Merauke perlu dijaga,” kata Lukas Enembe.
Meski demikian, Lukas merupakan sosok pemimpin pluralis dan egaliter yang menjunjung tinggi perbedaan dan persamaan, seperti jargonnya yang terkenal, “Kasih menembus perbedaan.” Ia baik dan mengasihi semua orang yang hidup di Papua, tanpa membedakan suku, agama, rambut, warna kulit, maupun status sosial. Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) akan selalu mengenang karya yang besar telah dedikasikan untuk Provinsi Papua dan secara khusus telah menyenangkan hati gereja dimana generasinya dibesarkan secara fisik, pembentukan karakter dan mental pemimpinnya sejak usia sekolah mingu, remaja, pemuda hingga dewasa menjadi kader GIDI terbaik dari Wilayah TOLI.
Seorang Lukas Enembe juga jebolan Alumni mahasiswa CornerStone Bible College di negara Kangguru (Australia) yang pernah belajar kepemimpinan yang berkarakter tangguh dan berhati hamba Engkaulah Pahlawan dan figure TERBAIK yang harus menjadi panutan bagi kami generasi selanjutnya.
B) Jhon Tabo & Ones Pahabol Gubernur dan Wakil Gubernur Pertama
Provinsi Papua Pegunungan Periode 2025-2030
Foto (Istimewa) Dr.John C.Tabo dan Dr. Ones Pahabol, Gubernur dan wakil Gubernur Provinsi Papua Pegunungan, Periode 2025-2030
Dr (Hoc) Jhon Tabo, SE.,MBA
Setelah Mendiang Lukas Enembe, kini muncul salah satu generasi Gereja GIDI terbaik adalah Dr (Hoc) Jhon Tabo, SE, MBA berasal dari Wilayah Toli seperti Lukas Enembe dari kampung Mamit Distrik Kembu, Kabupaten Tolikara.
John Tabo lahir di Kampung Wuragi, pada 2 Juni 1970 (umur 54) Distrik Wugi, Kabupaten Tolikara dari ibu bermarga Kogoya dan ayah bermarga Tabo, anggota klan konfederasi adat Bogoga dari suku Lani di Kabupaten Tolikara.
Ia dilahirkan di kampung Wuragi, Distrik Wugi lalu mengikuti pendidikan pada SD Inpres 6 Anawi Karubaga tamat tahun 1982, melanjutkan pendidikan SMP Negeri 2 Sentani tamat tahun 1985, dan selanjutnya masuk SMA Negeri 1 Wamena tamat tahun 1988. Melanjutkan perguruan tinggi S-1 pada Universitas Terbuka (2001), lanjutkan S-1 Universitas Cenderawasih (tamat tahun 2011). Tidak berhenti disitu tapi masih melanjutkan pendidikan Magister (S-2) pada American Institut of Management Studies Honolulu Hawai.
Sebelum menjadi bupati, John pernah menjabat sebagai ketua DPRD Kabupaten Jayawijaya periode 1999-2004, ketua sementara DPRD Kabupaten Tolikara 2004-2005, dan bupati Mamberamo Raya periode 2021-2025. Saat menjabat Bupati Tolikara, John pernah dipercaya menjadi Ketua Asosiasi Para Bupati Se- Papua Pegunungan Tengah periode 2008-2010. John merupakan Ketua Tim Pemekaran DOB Provinsi Papua Pegunungan periode 2019-2022.
John adalah salah satu politisi senior Partai Golongan Karya (Golkar).
Kini ia dipercaya sebagai Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Papua periode 2022-2027 dan Ketua TDK Prabowo-Gibran Provinsi Papua Pegunungan. Selain itu, John Tabo juga pernah dipercayakan untuk memimpin beberapa organisasi kepemudaan yaitu Ketua AMPI Kabupaten Jayawijaya (1988-1997), Ketua KNPI Kabupaten Jayawijaya (1992-1995), Ketua AMPG Kabupaten Jayawijaya (2002-2004) dan menjabatan sebagai ketua pada beberapa organisasi Partai Politik maupun organisasi lainnya, sehingga mental kepemimpinannya telah teruji secara mantap dan dewasa.Saat ini, John Tabo dipercaya masyarakat sebagai gubernur terpilih Provinsi Papua Pegunungan. Ia menggandeng Ones Pahabol sebagai wakil gubernurnya.
• VISI DAN MISI
• VISI
Untuk memberi gambaran Visi masa depan, maka John Tabo dan Ones Pahabol mereka berdua mengemukakan bahwa: akan disesuaikan dengan visi Indonesia Emas Tahun 2045 dan Visi Papua Emas Tahun 2040.
Visi pada dasarnya dipahami sebagai sebuah gambaran masa depan artinya sebuah pandangan yang jauh mengenai masa yang akan datang. Hal ini dipahami sebagai penggambaran sebuah kondisi yang akan terjadi pada suatu masa dikemudian hari. Oleh karena itu, Visi JONES adalah: “Provinsi Papua Pegunungan Bersinar (Berdaya Saing, Religius, Sinergis, Inovatif, Nyaman, Aman dan Raharja) dengan topangan komponen Adat, Agama, dan Pemerintah sebagai “tiga tungku” untuk bersinergi mengatasi ketertinggalan, keteritolasian dan Keterbelakangan (3K)”.
• MISI
Untuk mewujudkan Visi yang memberi arah dan fokus pada program untuk mengejar 3K, serta menghadirkan rasa Aman, Damai dan Sejahtera, maka ditetapkan Misi yang diusung adalah sebagai berikut:
1) Mewujudkan Masyarakat Yng Beriman dan Bertagwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa;
2) Mewujudkan Sumber Daya Manusia Yang Berkualitas, Cerdas, Sehat, Kuat serta Berbudaya Menuju Transformasi Sosial;
3) Mewujudkan Kehidupan Politik dan Transformasi Tata Pemerintahan Yang Baik Dengan Berkolaborasi Antara Swasta, Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten;
4) Mewujudkan Kualitas dan Kuantitas Prasarana dan Sarana Yang Menunjang Pengembangan Wilayah, Penyediaan Pelayanan Dasar dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah Berbasis Lingkungan dan Tata Ruang Yang Berkelanjutan Melalui Peningkatan Konektivitas dan Penataan Daerah;
5) Meningkatkan Produktivitas, Daya Saing dan Transformasi Ekonomi Melalui Optimalisasi Ketersediaan Sumber Daya Alam dan Pemberdayaan Masyarakat;
6) Mewujudkan Penegakkan Hukum dan Menjadikan Keamanan Daerah Yang Tangguh, Demokrasi Dalam Mendukung Stabilitas Ekonomi Macro di Daerah;
7) Pengembangan Ekonomi Mikro, Kecil dan Menengah serta Ketahanan Pangan Yang Bersumber Pada Kearifan Lokal;
8) Pemerataan Pembangunan Infrastruktur Yang Berkeadilan Menuju Papua Pegunungan Yang Unggul dan Berkesinambungan;
9) Perlindungan Terhadap Segenap Masyarakat Tanpa Membedakan Suku, Ras, dan Agama serta Menciptakan rasa aman, damai dan sejahtera.
Oleh karena itu, Pimpinan dan organisasi gereja yang sudah melahirkan calon- calon generasi pemimpin tetap bertanggung jawab mendorong dan menjadi mitra dalam pembangunan, demikian pula kita sebagai anggota warga masyarakat yang berdomisili di Provinsi Papua Pegunungan marilah mendukung semua Visi dan Misi dan Program-Program kerjanya dengan setiap potensi Sumber Daya Manusia yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepada kami sebagai manusia.
DR.ONES PAHABOL,SE.,MM
Ketika mendengar nama Dr.Ones Pahabol, SE., MM dikalangan orang GIDI bukan sosok yang baru dikenal, tetapi sudah familiar karena dia merupakan salah satu generasi TERBAIK dari Gereja Injili Di Indonesia dari Wilayah Yahukimo. Dilahirkan di Ninia Kabupaten Yahukimo, tanggal 22 November 1971.
Menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar pada SD Inpres Ninia tamat tahun 1984, dan selesaikan pendidikan menengah pertama pada SMP Negeri Kurima tamat tahun 1987, kemudian Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Taruna Bakti Wamena tahun 1990.
Menyelesaikan studi Strata Satu (S-1) sebagai Sarjana Ekonomi Universitas Karta Negara Jakarta tahun (1998), masih lanjut pendidikan Strata Dua (S-2) di Universitas Hassanudin Makassar tahun (2004). Tidak berhenti disitu namun dengan gigihnya Ones masih menempuh pendidikan Strata Tiga (S-3) Doktor pada Universitas Brawijaya Malang Provinsi Jawa Timur Tahun (2011).
Dalam Catatan Daftar Riwayat Pekerjaannya pernah menjadi Anggota DPRD Kabupaten Jayawijaya periode (1997-1999); Pimpinan sebagai Ketua DPRD Yahukimo (2003-2004); menjadi Bupati Yahukimo periode 2005-2010 dan kembali terpilih sebagai Bupati periode kedua (2011-2016).
Selain itu, dalam daftar riwayat Organisasi pernah menjadi Wakil Ketua III DPD II Partai Golkar Kabupaten Jayawijaya (1995-2003); Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Yahukimo (2003-2016); Plt. Ketua I DPD I Partai Golkar Provinsi Papua (2015-2016); Ketua Dewan Pertimbangan DPD I Partai Golkar Provinsi Papua (2016-2018); Pengurus Partai Berkarya (2018-2019) dab Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Papua Pegunungan (2023-2027), (https://id.wikipedia.org/wiki/Ones_Pahabol).
Dr. Ones Pahabol, SE.,MM terpilih dan telah ditetapkan sebagai Wakil Gubernur akan mendampingi Dr .(Hoc) John Tabo, SE.,MBA sebagai Gubernur Terpilih untuk memimpin Provinsi Papua Pegunungan Periode 2025-2030.
Pada tanggal 26 Februari 2025 saat Rapat Penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur Terpilih oleh KPU Provinsi Papua Pegunungan, disela-selanya Bapak Penjabat Gubernur Papua Pegunungan Dr.
Velix Vernando Wanggai, S.IP.,MPA.
Dr. Velix, Memberikan selamat kepada gubernur dan wakil gubernur Papua Pegunungan terpilih John Tabo dan Ones Pahabol yang telah ditetapkan pada proses rapat pleno saat itu mengatakan bahwa:” Kami berharap kedua sosok gubernur dan wakil gubernur Papua Pegunungan lebih baik dan Berjaya lima tahun kedepan”.
Dia (Pak Penjabat Gubernur) PERCAYA Papua Pegunungan dibawah pimpinan gubernur dan wakil gubernur John Tabo dan dan Ones Pahabol akan membawa provinsi ini lebih baik dari lima provinsi di Tanah Papua, dengan pernyataan seperti berikut: “Kami berharap semua masyarakat delapan Kabupaten di Papua Pegunungan dapat mendukung pemerintahan kedua pemimpin ini sehingga pembangunan akan terus berkembang”, katanya.
Demikian pula, dari pandangan dan harapan semua pemimpin gereja baik dari organisasi GIDI, GKII, KINGMI BAPTIST, KATOLIK, PANTEKOSTA, GBI, dan berbagai denominasi gereja yang ada di Papua Pegunungan memiliki harapan kepada kedua sosok pemimpin memiliki jiwa kebapaan untuk semua suku dan ras. Papua Pegunungan adalah “HONAI BESAR” untuk kita semua yang perlu ditata, dikemas, dijaga, dipelihara secara utuh demi menjaga persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan Tunggal Ika sesuai dengan motto: “Bangkit Bersama Membangun”.
C) WILEM WANDIK,S.Sos (ANGGOTA DPR RI 2 PERIODE 2014 - 2019 & 2019-2024)
Foto (Istimewa) Willem Wandik, S. Sos Bupati Kabupaten Tolikara Periode 2025-2030
Sosok Willem Wandik, S.Sos adalah salah satu Putra terbaik dari generasi gereja GIDI Wilayah Toli yang lahir di Konda, Kabupaten Tolikara pada tanggal 17 Agustus 1975 ini telah menjabat sebagai Anggota DPR RI dari faksi Demokrat selama dua periode, yakni periode 2014-2019 dan periode 2019-2024. Berdasarkan beberapa catatan daftar riwayat jabatanya menjelaskan bahwa: selama dua periode ini, ia ditempatkan di Komisi V DPR RI.
Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) untuk periode 2019-2022 dan pernah menjabat sebagai Wakil Ketua I DPP Partai Demokrat periode 2020-2025.
Berdasarkan beberapa catatan dalam daftar riwayat karis politiknya, Willem Wandik memulai kiprah politiknya pada Pemilihan Umum 2024. Ia menjadi calon anggota DPR RI dari Partai Demokrat untuk Dapil Papua, akhirnya terpilih menjadi salah satu dari sepuluh legislator yang mewakili Dapil Papua untuk periode 2014-2019 dengan perolehan suara 178.982 suara, merupakan perolehan suara caleg Partai Demokrat terbanyak kedua saat itu.
Kemudian Willem Wandik kembali terpilih pada Pemilihan Umum berikutnya untuk periode 2019-2024, dengan perolehan suara 134.299 suara . Kemudian pada kontestan Pemilu Serentak tahun 2024 Willem Wandik,S.Sos bersama pasangannya Yotam Wonda,SH.,M.Si dipercaya menjadi Bupati terpilih Kabupaten Tolikara Periode 2025-2030 yang diusung dari Partai Demokrat, Golkar dan partai lainnya.
D) John Siffy Mirin,S.Ip (Anggota DPR-RI dari PAN Periode 2018-2021)
Sosok John Siffy Mirin dilahirkan di daerah Korupun, pada tanggal 30 September 1978 dan meninggal pada 3 Juli 2021 saat berusia 42 tahun di Jakarta karena sakit. Ia merupakan salah satu generasi gereja terbaik dari GIDI Wilayah Yahukimo. Kabupaten Yahukimo.
John Siffy Mirin menyelesaikan pendidikan dasar pada SD Inpres Korupun (1987-1992), SMP YPPK Santo Thomas Wamena (1992-1995), SMA YPPK Santo Thomas Wamena (1995-1998) dan Perguruan Tinggi S-1 Ilmu Pemerintahan Universitas Sam Ratulangi Manado (1998-2003). John S Mirin merupakan kader Partai Amanat Nasional (PAN).
Ia pernah menjabat sebagai anggota DPR-RI sejak 2018 hingga wafatnya pada 2021 mewakili Daerah Pemilihan Papua sebagai Pengganti Antar Waktu. Ia sosok anggota DPR-RI termuda juga memiliki potensi khususnya dalam konteks generasi gereja GIDI Wilayah Yahukimo.
E) Ina Elisabeth Kobak, (Anggota DPR-RI Dari Partai Nasdem Periode (2019-2024)
Sosok Ina Elisabeth Kobak, ST., MM lahir pada 13 Desember 1990 DI Wamena. Menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah atasnya di Wamena lulus pada tahun 2006 di SMA Negeri 1 Wamena. Kemudian melanjutkna pendidikan pada Perguruan Tinggi Di Universitas Trisakti Jakarta Program studi Teknik Pertambangan, sehingga menyandang gelar Sarjana Teknik (ST) lalu melanjutkan Program Magister Managemen Kauangan, sehingga mendapatkan gelar Magister Manajemen (MM) pada Universitas Trisakti pada tahun 2019.
Ina Elisabeth merupakan anak terakhir dari Bapak (Alm) Pdt. Ottow Kobak, S.Th dan ibu Kandungnya Mama Regina Kallem Kobak. Dalam konteks generasi gereja GIDI Ina Elisabeth adalah anak muda berpotensial dari wilayah Ninia Kabupaten Yahukimo.
Karis politiknya Ina Elisabeth dilantik sebagai anggota DPR-RI Fraksi Nasdem dari Dapil Papua pada 1 Oktober 2019, setelah sebelumnya memenangkan satu kursi dalam pemilihan umum 2019 dengan perolehan suara sebanyak 118.421 suara. Partainya sendiri mendapatkan kursi terbanyak yakni tiga dari sepuluh kursi di dapil tersebut. Ina Elisabeth oleh partainya ditempatkan di Komisi VII DPR-RI yang ruang lingkup kerjanya meliputi bidang energy, riset dan teknologi.
Hal itu sesuai dengan harapannya pasca pelantikan karena bidang kerjanya Komisi VII sesuai dengan latar belakang pendidikannya.